Dulu engkau sangat di banggakan
Dulu engkau tidak pernah di lupa
Semua mata tertuju pada wajahmu
Semua bibir terbesit keindahanmu
Damai dan penopang kehidupan disekitarmu
Tanah dan lahan kosong yang menghijau
Tanaman dan pohon yang rindang
Bagaikan hamparan bunga-bunga pada musim semi
Senyum dan kicauan burung-burung yang menari
Sedang mementaskan naskah panorama bumi yang ciamik
Anak dan orang tua banyak yang bertanya pada angin
Apakah sudah tidak ada lagi kesejukan untuk kami
Apakah sudah hilang dongeng dan cerita
Untuk generasi kami yang sudah mulai melupakan rahmat yang menghidupinya
Atau itu hanya pengantar tidur sibuyung
Wahai orang tua kami, oi……………..
Kenapa masih selalu menyembunyikan wajah dibaling topengmu
Pembaharuan apa yang kau letakkan diatas sendi-sendi kemajuan
Sungguh bijak kah mengganti suara alam dengan suara mesin dan kendaraan berat
Dengan dalih mederenisasi yang melupakan legenda
apa yang kau fikirkan wajah dibalik topeng
kami bisa menikmati pohon-pohon beton yang angkuh
yang membuat akar yang melillit melulut
dan dikekang karena tidak pernah diberi air cinta dan kenyamanan
tuk masuk dalam singgasanamu, melihat wajahmu sekarang
atau masikah disuruh mencari sendiri sementara haknya kau kantongi
dengan satu kata pamungkas “tidak ada” atau untuk membangun tembok raksasa
untuk melindungi wajah dibalik topengmu
sadarlah wajahmu kini mulai keriput atau memang udah nga punya wajah
Karya: Welly Comeback Tomorrow