CERPEN: HIDUP DALAM GELAS

Oleh Khittah Muslimah

Orang-orang menyebutku pangeran beruntung yang memiliki segalanya, mereka bilang aku beruntung memiliki proporsi wajah yang sempurna, pundi-pundi yang tak terhingga, kecerdasan, popularitas, dan segalanya dalam pandangan mereka. Mereka tidak tahu saja bahwa aku sudah muak dengan hidup yang mereka kira sangat sempurna. Hidup dalam genggaman orang-orang yang menuntut kesempurnaan. Hidup dalam gelas bagai batu yang diukir seorang seniman.

“Raga! Buka pintunya, ayah ingin berbicara padamu.”

Sial. Kubelai jam tanganku cepat, berharap waktu berlalu dengan cepat. Kuintip jendela yang gordennya tersingkap, sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.

Bam!

Bibirku melengkung sempurna ketika rintikan hujan memenuhi kaca jendela di luar sana. Hujan, aku suka suasananya. Hujan mengartikan kesendirian, simbol ketenangan, dan juga kerinduan. Kau tahu, ‘kan? Ketika hujan kebanyakan orang-orang akan menyingkir dari basahnya hujan, bernaung dari derasnya hujan, menyisakan jalanan yang sepi dengan rintikan hujan. Sepi dalam ketenangan, aku … ingin seperti hujan yang dapat menciptakan ketenangan itu.

 “Raga! Buka pintunya!” Gedoran pintu semakin terdengar dengan brutal, kurasa pintu itu akan rusak nanti.

“Iya.” Aku sudah muak mendengar keributan yang tidak akan berakhir. Kuputar kunci dan knop pintu kamar, membukanya lebar seakan mempersilahkan sang Tuan masuk.

Plak!

Bukan ucapan terima kasih atau senyum lebar yang kudapat malah tamparan keras di pipi. Aku tersenyum senang. Aku benar. Aku sudah melakukan hal yang benar dengan melakukan ini. Perlawanan kepada sang Tuan agar ia paham untuk tak semena-mena pada bawahan.

“Mau jadi apa kamu seperti ini?!” ucap Tuan itu menunjuk-nunjuk ke arahku dengan intonasi marahnya yang khas. Sedangkan, aku masih dengan senyum lebarku memandang hujan di balik jendela kamar.

“Dasar anak yang tidak tahu sopan-santun! Lihat mata orang yang berbicara ketika orang itu berbicara padamu!”

Aku hanya diam, tak menanggapi. Terakhir kali aku menanggapi, mulutnya tak ada hentinya berceloteh sepanjang hari. Aku sudah muak dengan segalanya.

“Kamu masih ingat, bukan? Saham di perusahaan sedang turun, mereka akan melakukan rapat internal untuk menggantikan kedudukan ayah segera. Kamu harus bisa melakukannya, ingat itu.”

Sekali lagi aku hanya diam tak menanggapi, apapun yang aku katakan tidak akan merubah pemikiran Tuan yang terhormat itu. Aku menyukai seni, bukan bisnis dengan saham yang harus dijaga dengan sebuah citra baik di depan publik tetapi busuk di dalamnya. Terakhir kali aku mengatakan itu, ia marah besar dengan menghancurkan semua lukisanku dan alat lukis kesayanganku. Ia menyalahkan semua keinginanku yang katanya hanya sebuah mimpi semu yang tak berarti dan tak menghasilkan pundi-pundi yang melimpah dibandingkan dengan usaha bisnisnya selama ini yang menjamur.

Sesekali aku pernah memikirkan perkataannya, mimpiku tak berharga, aku tak berbakat, dan tidak seharusnya aku menekuni bidang ini. Bahkan, orang-orang—yang katanya teman itu sering kali menyayangkan diriku yang mengambil bidang seni dibandingkan mengambil bidang ekonomi bisnis atau kedokteran yang katanya lebih cocok denganku yang dilihatnya pintar dalam hal itu. Tapi aku … tidak menyukai hal itu, aku suka seni yang bebas, dan suasananya—ketenangan.

Seni untuk bersikap bodo amat, salah satu buku seni yang sangat kusukai. Bersikap bodo amat dengan segala sesuatu yang tidak penting merupakan sesuatu yang dibahas di dalamnya, dan aku suka dengan itu. Aku ingin melakukannya di kehidupanku sekarang, semuanya seakan menyalahkan pilihan hidupku, menuntutku untuk sempurna sesuai dengan keinginan mereka.

Seandainya kamu ….

Jika saja kamu ….

Kenapa kamu tidak memilih ….

Andai kamu menurutiku ….

Sederetan kalimat yang menghujamku sepanjang waktu, mereka hanya ingin melihatku dengan kesempurnaan, padahal aku tidak sedikit pun menginginkan hal itu. Aku tidak ingin hidup dalam genggaman orang-orang yang menginginkan hidupku, dan bila aku tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, penyesalannya melebihi penyesalan diriku yang bahkan mungkin aku tidak ingin menyesali itu.

Sempat aku ingin pergi saja dari dunia ini, dan hidup di dunia lain yang lebih menghargai diriku. Aku berdiri di pembatas atap gedung pencakar langit, menutup mata menahan tangis yang menggebu. Selangkah lagi aku melangkah, aku akan mendapatkan ketenangan abadi yang sangat kuinginkan selama ini. Tetapi … tak kusangka seorang gadis yang tak bisa berpatah kata itu menyelamatkanku dari hal yang sangat memalukan itu.

Gadis berambut hitam lembat berkuncir kuda, dan bermata sipit itu menangkap tubuhku agar tak terjatuh dari sana, dan menarikku turun ke pelantaran atap sembari memukul-mukul tubuhku dengan rautnya yang menunjukan kemarahan terhadapku seakan berkata bahwa aku bodoh ingin mengakhiri hidup karena masalah itu.

Aku akui dia memang benar, dan itulah pertama kalinya dalam hidupku ada seseorang yang memedulikan hidupku yang berharga. Walaupun ia tak bisa berucap dengan bibirnya, aku merasakan kehangatan dan ketulusannya padaku. Sesuatu yang selama ini aku tidak miliki, ia mempunyai itu walaupun dalam keterbatasannya.

Sejak hari itu pula aku berusaha tegar dalam keadaan, berjuang untuk menjadi seseorang yang dapat dibanggakan orang lain, memimpin perusahaan ayah yang sedang diambang kehancuran, dan melanjutkan hobiku sesekali. Walau sekarang hobiku bertambah, bisa dibilang hobiku ini lebih menyenangkan dari menorehkan tinta di atas kanvas.

Gadis itu—namanya Puja—selalu menguatkanku dalam keterpurukan, seperti hujan yang mendatangi jalanan. Entah mengapa aku sering kali duduk di halte dan menunggunya datang dengan senyuman di kala senja. Senyumnya membuatku candu, ingin sekali kutangkap senyum itu dan menaruhnya di etalase kaca kamarku agar kehangatan itu tetap terjaga di sana.

“Kau mau membeli apa? Aku bisa membelikan banyak hal untukmu. Ayahku sangat kaya. Kau tahu ‘kan?”

Tak ada terdengar jawaban.

“Kalung berlian? Mobil? Rumah?”

Masih tak terdengar jawaban.

“Ah! Aku tahu kau ingin uang tunai, ya?”

Lagi-lagi tak terdengar jawaban.

“Berapa? 80 juta?”

“Orang gila.” Orang yang sibuk berlalu lalang rupanya cukup peduli sampai umpatan itu keluar dari bibirnya. Padahal aku tak mengaharap jawabnya.

“Mau mati kah?”

“Lah nantangin? Benar-benar wong sarap.”

Ini. Ini nih orang bodoh yang selalu ikut campur. Harus diberi paham. Barang kali dia juga ingin pelicin?

“Mau juga?”

Rautnya bagai bunglon nan seketika berubah malu-malu. Negeri Eyosia ini memang tak sesuci miras oplosan yang sering nangkring di rumah kedap-kedip di pinggir jalan tol. Yah… sebenarnya aku tidak peduli, biarkan saja orang-orang itu berlogika mengeras dengan kebenarannya sendiri.

“Tapi aku punya syarat bila kau mau melakukannya, aku akan memberikan semua hartaku.”

“Apa itu?” tanyanya.

“Kau harus membuat gadis ini berbicara padaku,” ucapku sembari menunjuk Si Cantik, Puja.

“Orang gila. Tidak ada siapa pun di sampingmu. Sudahlah… sepertinya aku yang bodoh menanggapi ucapmu.” Orang itu pergi menghentak kaki, membuatku terheran dengan ucapnya. Kulirik tipis Puja, masih manis dengan senyumnya. Sepertinya dia yang gila.

“Pakai otakmu, dasar bodoh.”

SELESAI

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments